Akreditasi Universitas Bengkulu B Lagi, Mengapa?

Lenyap sudah harapan Unib terakreditasi A. Segala usaha yang melelahkan menjelang reakreditasi sepertinya sia-sia. Sepertinya para pemimpin Unib harus mengevaluasi diri mengapa bisa begitu? Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari kondisi ini, yaitu:

  1. seyogyanya semuanya itu direncanakan sebaik-baiknya, dan dilakukan apa yang direncanakan dengan sebaik-baiknya, tahap demi tahap. Tidak ujug-ujug menjelang akreditasi, semua sibuk, semua berpikir, semuanya dilakukan tergesa-gesa. Lalu dicarikan strategi agar bisa naik kelas. Akibatnya ya itu kita tidak naik kelas.
  2. melakukan evaluasi diri secara jujur, dan hasil evaluasi itu kemudian dijadikan pedoman untuk melakukan perbaikan. Tentu saja secara bertahap! Tidak ujug-ujug! Semua sumber daya hendaknya difokuskan untuk mencapai tujuan tersebut.

Ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa dijadikan dasar evaluasi tentang gagalnya Unib naik kelas, yaitu:

  1. sudahkah semua aktiivtas di Unib dibuat dokumennya, dan kemudian dokumen itu benar-benar diacu dalam aktivitas penyelenggaraan tri dharma PT? Jika ada 1000 aktivitas, maka minimal ada 1000 dokumen instruksi kerja/SOP.
  2. sudahkah semua dokumen yang dibutuhkan selain nomor 1 itu juga sudah dibuat dokumennya?
  3. sudahkah semua dokumen itu diarsipkan dalam suatu pangkalan data yang baik?
  4. sudahkah semua data yang terkait dengan kegiatan universitas juga terdokumentasikan dengan baik (pangkalan data)? Indikasi pangkalan data yang baik sederhana saja, yaitu kemudahan dalam mengakses data oleh yang membutuhkan.
  5. sudahkah semua sumber daya difokuskan untuk mencapai visi dan misi Unib? Contoh yang kecil saja, misalnya apakah remunerasi difokuskan untuk mencapai visi dan misi Unib?
  6. sudahkah Unib mempunyai produktivitas tri dharma PT yang tinggi? Dan sudahkah semua itu terdokumentasikan dalam pangkalan data? Produktivitas tri dharma di dharma 1, misalnya inovasi pembelajaran yang terdokumentasikan dalam bentuk buku yang diterbitkan secara nasional, buku ajar yang bernilai nasional, pedoman praktikum yang menjadi acuan PT lain, dll. Produktivitas di dharma 2, misalnya publikasi di jurnal internasional bereputasi, jurnal nasional terakreditasi, paten, perlindungan tanaman, buku teks yang bersifat nasional, buku monograf yang bersifat minimal nasional, dan produk HAKI lainnya. Produktivitas di dharma 3 misalnya, desa binaan, dokumen kebijakan yang digunakan oleh stakeholders, menjadi acuan masyarakat, produk-produk yang berkualitas, dll. Produktivitas di penunjang misalnya, jumlah program studi yang terakreditasi A, jumlah kerjasama yang terealisasikan, dll.
  7. di era global ini layanan diarahkan dengan menggunakan teknologi informasi. Pertanyaannya adalah sudahkah Unib mampu memberikan layanan yang prima dengan menggunakan teknologi tersebut? Dan sudahkan semuanya itu terdokumentasikan dan mudah diakses?
  8. terakhir, sudahkah dokumen akreditasi disusun dengan sempurna?

Masih banyak pertanyaan yang mesti dijawab secara jujur terutama oleh para pimpinan Unib dari tingkat yang paling rendah sampai yang tingkat yang paling atas? Tapi untuk saat ini biarkan 7 pertanyaan saja yang perlu direnungkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s