Kontes Ayam Burgo

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kontes ayam burgo di Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Kontes dibagi menjadi dua ketegori, yaitu ayam burgo turunan yang masih sangat mirip dengan ayam hutan merah (keturunan F1, F2 dan F3) dan ayam burgo turunan yang lebih banyak karakteristik ayam kampung (F4 ke atas). Ayam burgo dinilai penampakan morfologi dan suara kokoknya. Kontes ayam burgo ini sepengetahuan saya yang pertama kali di Bengkulu. Rencananya, Pemerintah Daerah Propinsi juga akan menyelenggarakan kontes ayam burgo ini bulan Oktober 2015 mendatang.

Untuk lebih mendalami ayam burgo (brugo) dan ayam hutan merah lihat di sini. Empat jenis ayam hutan yang sudah langka di sini. Gambar ayam hutan hijau di sini. Gambar ayam hutan merah di sini. Gambar ayam hutan kelabu di sini. Ayam hutan Srilangka di sini.

Hikmah dari Hilangnya Sebuah Dompet

Nun di negeri antah berantah, seorang anak punggawa kerajaan negeri dongeng telah kehilangan dompet. Ceriteranya ia membeli jus dan ketinggalan dompet di warung tersebut. Di dalam dompet ada sejumlah uang, dan surat-surat berharga seperti ATM, STNK, SIM dan KTP. Ia baru sadar dompetnya hilang ketika sudah sampai di rumah kontrakannya. Lalu ia kembali kesana dan menanyakan kepada penjual jus apakah melihat dompetnya. Ia ceriterakan cicir-ciri dompetnya. Penjual jus bilang tidak tahu. Sang anak meninggalkan nomor telpon kalau-kalau nanti ketemu dompetnya.

Dua hari ia berkutat, akhirnya tidak tahan lalu telpon ke orangtuanya. Menceritakan musibah. Orang tuanya pun ikut sibuk. Mereka menyuruh anaknya untuk mengurus surat kehilangan dari polisi. Mereka juga ikut mengurus surat-surat berharga. Setelah kalang kabut selama 6 hari, akhirnya penjual jus telpon ke anak tersebut bahwa dompetnya telah ditemukan. Alhamdulillah! Sesuai pesan orangtuanya, anak tersebut tidak tanya apa-apa. Yang penting surat-surat berharganya ditemukan, meskipun uang sebesar lima ratusan ribu raib.

Dalam setiap kejadian, ada hikmah dibalik itu. Demikian pula dengan peristiwa naas di atas, antara lain:

  1. Sang anak mestinya untuk hari-hari berikutnya akan hati-hati. Tidak teledor. Sudah berulang kali ia teledor. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran yang amat berharga.
  2. Anak jadi berpengalaman mengurus beberapa hal yang sebelumnya mungkin kurang pede.
  3. Sang anak jadi lebih menyadari bahwa hidup ini perlu bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat dan saling tolong menolong dalam kebenaran. Mudah-mudahan ia menjadi semakin aktif dalam bersosialisasi/bergaul dengan sesama.
  4. Jalinan antara anak dan orangtua menjadi lebih erat, dikarenakan komunikasi yang intensif dalam upaya memecahkan masalah di atas.
  5. Anak dan orangtuanya lebih intensif beribadah dan berdoa serta berusaha dengan tingkat kepasrahan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
  6. Lebih menyadari bahwa manusia itu lemah dan memerlukan tempat bergantung, tempat bercuhat, tempat mengadu. Tak ada tempat bergantung yang dapat dipercaya selain Allah s.w.t.
  7. Mudah-mudahan lebih kejadian ini mereka menjadi keluarga yang lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah, sering kali manusia tidak tahu bagaimana cara Allah memberi pelajaran kepada manusia. Dibalik semua musibah In Syaa Allaah ada pelajaran bagi manusia yang beriman. Oleh sebab itu, berpikir positif kepada Allah dalam menghadapi musibah adalah sikap yang terbaik.  Kita harus menyadari betapa semua yang kita miliki adalah titipan Allah. Semua titipan itu dalam sekejap bisa hilang jika Allah menghendaki. Oleh sebab itu, kita harus bisa memanfaatkan titipan yang ada pada diri kita untuk kegiatan-kegiatan yang diridlai oleh Allah. Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya. Mari kita evaluasi diri kita, sejauh mana kita memedomani Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita selalu perbaiki diri kita masing-masing. Semoga kita menjadi orang yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat, aamiin.

Betapa Kecilnya Manusia

Jika Anda berdiri di bibir jurang yang dalam, apa yang ada dalam pikiran Anda? Adakah Anda berpikiran untuk terjun dengan penuh keyakinan diri, ataukah ada perasaan ngeri? Jika Anda memandang gunung yang menjulang tinggi apa yang ada dalam pikiran Anda? Adakah Anda akan berpikir bahwa Anda lebih kuat darinya, ataukah berpikir bahwa Anda kalah kuat? Jika Anda memandang jagat raya yang terbentang, apa yang ada dalam pikiran Anda? Apakah Anda akan bersombong diri bahwa Anda lebih hebat, ataukah Anda mengakui kehebatan alam semesta? Jika Anda berpaling pada diri Anda, adakah Anda berpikir bahwa Anda itu hebat, ataukah mengakui ketidaktahuan Anda?

Semuanya itu bergantung kepada Anda sendiri. Adakah Anda menggunakan akal dan hati dalam menimbangrasa, ataukah hanya berdasar hawa nafsu. Mungkin selama ini kita berbangga dengan prestasi kita, atau bahkan menjadi sombong, sehingga kita merasa hanya kitalah yang hebat. Kita ingin dipuji atas prestasi kita ini. Kita ingin dihargai atas prestasi kita. Kitalah yang paling berkontribusi terhadap suatu hal, yang lain tidak ada kontribusi. Jika demikian halnya, maka kita menjadi buta. Buta atas kelemahan diri. Buta atas kelebihan orang lain. Ilmu yang kita peroleh malah membuat kita semakin jumawa. Kita menganggap pendapat kitalah yang paling benar. Jika sudah itu dalam berpendapatpun juga disandarkan pada tulisan atau berita yang membenarkan pendapat dan pendiriannya itu. Ia tidak mau membaca tulisan/berita lain yang tidak sesuai dengan pendapat dan pendiriannya itu. Pokoknya sayalah yang benar. Itulah kalau kita hanya menggunakan hawa nafsu.

Lain halnya jika kita menggunakan hati dan akal. Semakin kita menimba ilmu, semakin terasa bahwa apa yang kita ketahui amatlah kecil. Semakin kita berpikir maka semakin terasa bahwa apa yang kita punyai dan kita sumbangkan bukanlah apa-apa. Semakin pula kita sadar bahwa kesuksesan itu terjadi apabila semua orang yang terlibat memberikan kontribusi secara optimal. Jika hanya mengandalkan diri, maka sulitlah bagi seseorang untuk sukses. Semakin sukses seseorang, maka semakin banyak pula ia membutuhkan bantuan orang lain. Kita tidak menganggap pendapat dan pendirian kita yang paling benar. Kita akan membaca berbagai tulisan/berita yang saling bertentangan, kemudian kita menelaahnya dengan hati dan akal. In Syaa Allaah akan diperoleh mana yang lebih benar.

Cobalah kita lihat diri sendiri. Kelemahan dan kekuatan diri kita, lalu kita nilai dengan jujur dan wajar. In Syaa Allaah kita akan melihat bahwa apa yang ada dalam diri kita hanya debu diantara sekian banyak manusia. Apalagi jika dibandingkan dengan jagat raya ini, alangkah kecilnya diri kita. Tidaklah layak kita bersombong diri. Sudah layaklah dan seharusnya kita semakin menundukkan diri. Apalagi jika kita sadari bahwa apa yang kita miliki ini susungguhnya hanyalah pinjaman dari Allaah, maka seharusnyalah kita semakin taat dan ikhlas menempatkan diri sebagai hamba sahaya Allaah. Kita tidak punya apa-apa. Kita tidak punya sesuatu yang layak kita banggakan. Kita tidak punya sesuatu yang layak kita sombongkan.

Permenristekdikti no 20 tahun 2017 yang Bikin Heboh

Inilah peraturan menteri yang bikin heboh dan sekaligus deg-degan bagi para dosen. Kalau kewajiban menulis artikel ilmiah dan buku bagi profesor mungkin tidak bikin heboh, sebab kewajiban itu sudah sejak tahun 2010. Implementasi evaluasi dan sangsi bagi profesor selalu ditunda-tunda. Meskipun demikian, tetap saja banyak guru besar yang deg-degan juga, soalnya lebih berat, yaitu setiap tahun harus menghasilkan artikel ilmiah internasional.  Meskipun saya tidak punya data, saya menduga akan banyak profesor yang terkena dampaknya.

Nah yang bikin heboh adalah kewajiban bagi dosen Lektor Kepala. Tiba-tiba saja tanpa ada hujan tanpa ada angin, muncul kebijakan bahwa Lektor Kepalapun wajib publikasi setiap tahun di jurnal nasional terakreditasi, atau satu publikasi di jurnal internasional dalam kurun waktu 3 tahun, ditambah menulis buku. Celakanya, kewajiban ini berlaku surut, yaitu sejak tahun 2015.

Mungkinkah dalam waktu 10 bulan dosen Lektor Kepala mampu menghasilkan 3  karya ilmiah dan satu buku? Rasanya sangat mustahil. Untuk menghasilkan satu karya ilmiah di jurnal nasional terakreditasi dibutuhkan satu buah riset. Kalau 3 buah artikel ilmiah, artinya harus punya 3 buah riset. Belum lagi menulis buku! Walah-walah bisa-bisa 90% dosen Lektor Kepala terkena sangsi, yaitu dihentikannya tunjangan profesi untuk sementara waktu.

Ada rasa tidak adil dalam permen ini. Dalam hal ini Lektor Kepala sungguh dimarjinalkan. Mengapa hanya Lektor Kepala, sementara Asisten Ahli dan Lektor tidak ada persyaratan tambahan. Jika sang Lektor Kepala terkena sangsi maka pendapatannya akan lebih rendah daripada Asisten Ahli maupun Lektor. Sementara, profesor yang terkena sangsi hanya tunjangan kehormatannya sementara tunjangan profesi tetap ada.

Selain itu, dari unsur perundang-undangan disinyalir permen ini bertentangan dengan peraturan diatasinya, padahal peraturan menteri tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya.

Saya khawatir justru kebijakan ini akan menjadi bumerang. Alih-alih dosen mau berkalang kabut. Bisa jadi dosen menjadi cuek. Ah, biar dikejarpun mustahil. Biarlah lepaskan saja tunjangan profesi itu, saya mau cari tambahan penghasilan yang lainlah.  Bisa jadi dosen Lektor Kepala akan mogok bertugas karena kebijakan itu dinilai tidak adil, dan sepertinya memang demikian. Semoga permen ini ditinjau ulang agar lebih adil. Jika pun pemerintah bermaksud meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, bukankah pemerintah bisa memberikan pendapatan tambahan atas prestasi yang dicapai oleh para dosen. Sepertinya hal ini sudah diatur dalam UU Guru dan Dosen. Inilah permenristekdikti yang bikin heboh.

permenristekdikti-no-20-th-2017

permenristekdikti-no-20-th-2017-lampiran

Permenristekdikti no 20 tahun 2017 sedikit diubah. Mungkin memperhatikan berbagai kritik dan saran, maka permen ini sedikit mengalami revisi. Kewajiban menulis buku dihilangkan, sementara , kewajiban menulis karya ilmiah tetap ada. Meskipun lebih ringan, saya yakin masih banyak yang terkena dampaknya. Kalau bagi guru besar itu tidak masalah karena seharusnya para guru besar telah siap, sebab kewajiban itu sudah sejak 2010 sudah ada. Meskipun demikian, saya yakin tetap masih ada guru besar yang belum siap dikarenakan berbagai sebab dan alasan.

Diskusi, protes dan masukkan mungkin deras mengalir, sehingga sepertinya dalam pelaksanaannya permen 20 ini akan lebih longgar. Pihak kementerian juga meminta masukkan sebab sekarang ini sedang membuat juknisnya. Ada masukkan sebaiknya pelaksanaan evaluasi ini diundur Nopember 2018 sesuai dengan peraturan sebelumnya yang menyatakan akan mengevaluasi kinerja guru besar tahun 2018. Sepertinya pihak kementerian akan menyesuaikan dengan masukan dan saran dari berbagai pihak.

Ada beberapa pemikiran seperti mengapa buku teks tidak diperhitungkan, padahal dalam buku teks akan ditemukan ulasan yang komprehensif dari suatu bidang ilmu. Berbeda dengan artikel ilmiah yang hanya satu topik spesifik (kecuali artikel review). Seyogyanya buku teks juga diperhitungkan sebagaimana artikel ilmiah. Ada juga yang mengusulkan agar Indonesia membuat model pemeringkatan/pengindekan tersendiri untuk menilai kinerja para dosen. Jadi tidak bergantung pada scopus atau pengindeks internasional lainnya.

Banyak pemikiran yang berkembang, dan mungkin implikasi permen 20 ini juga akan berkembang, serta mungkin juga akan dievaluasi kembali.

Hubungan Proposal Penelitian dengan Publikasi Ilmiah

Saya sudah menyajikan kiat menulis artikel ilmiah di blog ini. Ada beberapa hal yang belum disajikan dalam tulisan tersebut. Untuk melengkapi tulisan saya, maka saya tambahkan beberapa hal yang belum ditulis. Sejatinya untuk menulis artikel ilmiah baik di jurnal nasional terakreditasi maupun iternasional bereputasi dimulai sejak menyusun proposal penelitian. Jadi, sebelum membuat proposal, kita sebaiknya sudah membidik jurnal mana yang akan dituju untuk mempublikasikan hasil riset kita. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat proposal dalam kaitannya dengan publikasi antara lain sebagai berikut.

  1. Pelajari pedoman penulisan dan contoh artikel yang terkait dengan scope jurnal. Tentunya kita harus memilih jurnal yang scopenya sesuai dengan apa yang akan diteliti.
  2. Beberapa jurnal meminta ethical approval bagi penelitian yang berkaitan dengan penggunaan makhluk hidup. Di beberapa jurnal malahan ini diwajibkan. Jika tidak ada maka langsung ditolak.
  3. Perhatikan rancangan percobaan yang dikehendaki (lihat contoh artikel dan pedoman penulisan) seperti berapa minimal perlakuan, ulangan dan jumlah dalam setiap ulangan. Hal ini ada kaitannya dengan tingkat akurasi analisis data. Biasanya jurnal internasional meminta hal-hal di atas di atas minimal, seperti jumlah perlakuan, jumlah ulangan dan jumlah obyek penelitian dalam setiap ulangan.
  4. Perhatikan contoh variabel yang bagaimana yang dikehendaki. Apakah cukup dengan variabel yang menjawab apa, atau harus menjawab apa dan mengapa, atau bahkan menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Ada jurnal ilmiah yang juga mensyaratkan jumlah minimal variabel. Syarat ini biasanya tidak ditulis dalam pedoman penulisan. Kita dapat mempelajarinya dari contoh artikelnya.
  5. Jurnal ilmiah internasional mensyaratkan penelitian dengan standar-standar  internasional. Oleh sebab itu, kita harus mempelajari hal-hal tersebut agar nantinya hasil riset kita bisa dipublikasikan di jurnal yang kita pilih.
  6. Nah, setelah hal-hal yang penting itu dipelajari dari contoh artikel dan pedoman penulisan, barulah kita bisa menentukan kira-kira butuh berapa dana. Berdasarkan perkiraan ini, maka kita tentukan skim penelitian yang dananya sesuai dengan kebutuhan dana yang diperlukan.
  7. Barulah Anda bisa menyusun proposal penelitian.

Demikianlah, semoga bermanfaat.

Mari Kita Kembangkan Kearifan Nutrisi

Oleh: Urip Santoso

Berbeda dengan hewan, manusia selain mempunyai kebutuhan juga mempunyai keinginan. Sering kali manusia lebih mengedepankan keinginan (nafsu makan) daripada kebutuhan nutrisinya. Untuk mempertajam kearifan nutrisi, manusia memerlukan ilmu dan pengetahuan tentang nutrisi yang dibutuhkannya. Sayangnya banyak manusia yang kurang memperhatikan tentang hal ini.

Manusia seringkali lebih mengedepankan keinginan semata atau seleranya, sehingga tampak mereka kurang bisa memilih makanan mana yang lebih baik dikonsumsi. Banyak orang yang lebih memilih cabe daripada daging ayam, hanya untuk memenuhi seleranya. Banyak orang yang lebih memilih rokok daripada memilih telur untuk dikonsumsinya. Banyak orang yang lebih memilih rasa daripada nilai nitrisi suatu makanan, sehingga mereka memasak makanan lama sekali untuk mendapatkan rasa yang enak. Padahal makanan yang dimasak sangat lama akan merusak zat gizinya, sehingga nilai nitrisinya rendah dan kurang bermanfaat bagi tubuh. Baca lebih lanjut

Menulis Buku, Gimana Ya?

Mungkin saya kurang berbakat dalam dunia tulis menulis, namun dikarenakan tugas saya erat kaitannya dengan dunia tulis menulis maka saya berusaha keras untuk itu. Saya tidak tahu teori menulis buku, namun saya mencoba berbagi pengalaman menulis buku. Ada teman yang tanya, berapa saya menulis buku. Saya jawab, wah bertahun-tahun. Loh kok?

Ya, saya menulis buku memerlukan waktu yang panjang. Soalnya tidak setiap saat saya menulis. Kapan bisa saya coba corat coret. Ada yang unik menurut saya, cara saya menulis buku. Beberapa tahap saya lakukan, seperti berikut ini.

  1. Awalnya barangkali saya tidak punya tujuan menulis suatu buku. Saya hanya mencoba menulis beberapa artikel yang masih dalam satu topik.
  2. Satu demi satu saya tulis artikel tersebut untuk waktu yang tidak saya tentukan. Saya memang tidak punya target apa-apa. Kalau saya sudah tidak tertarik pada satu topik yang sama, saya lalu pindah buat artikel lain yang beda topik. Tidak apa-apa kan?
  3. Sebagian tulisan mungkin saya terbitkan di majalah atau koran, sebagian lain mungkin diterbitkan di tempat lain seperti blog, sebagian lagi disertakan dalam lomba, sebagian lain disimpan saja.
  4. Artikel-artikel yang sudah saya tulis biasanya saya baca kembali berulang kali. Nah, dalam proses ini timbullah ide menulis buku. Toh beberapa artikel seperti relevan untuk dibuat satu buku.
  5. Jika saya sudah sampai dalam tahap ini, barulah saya serius membuat buku. Tahap pertama yang saya lakukan tentu saja membuat kerangka tulisan tentatif. Mengapa tentatif? Sebab sewaktu-waktu bisa ditambah atau dikurangi.
  6. Lalu saya membaca literatur yang relevan dengan topik yang saya angkat.
  7. Selanjutnya saya coba corat-coret tidak tentu. Mana yang bisa saya tulis saya tulis. Jadi tidak berurutan dari pendahuluan sampai penutup. Loncat-loncat gitu.
  8. Kalau sudah macet baru saya berhenti. Tahapan itu terus saya lakukan.
  9. Selagi proses seperti di atas, mungkin saya sudah mulai menyunting bagian-bagian yang saya anggap sudah lengkap informasi yang dibutuhkan. Sementara di bagian lain baru terisi coretan yang berserabutan tidak karuan, dan bahkan masih ada yang kosong. Tidak apa.
  10. Kalau lagi malas nulis ya saya biarkan. Toh saya tidak punya target.
  11. Tidak jarang selagi saya menulis satu buku, saya tertarik menulis artikel yang lain. Tak apalah. Saya turuti saja. Toh percuma saja kalau saya lanjutkan.
  12. Sampai pada suatu hari ternyata tulisan saya sudah mulai berujud buku. Nah, disini saya mulai sungguh-sungguh untuk merampungkannya

Itu yang saya lakukan. Dengan cara ini, saya telah menyelesaikan kurang lebih 13 buah buku. Tujuh diantaranya sudah diterbitkan. Dua buah buku mudah-mudahan bisa diterbitkan tahun 2017 ini, aamiin. Sisanya? Entahlah!

Empat Hal yang Membuat Hidup di Dunia Bahagia

Khutbah Jum’at tanggal 30 Desember 2016 di masjid Darussalam, Perumnas mengambil topik empat hal yang membuat hidup di dunia bahagia. Berikut ringkasannya:

  1. Mempunyai pasangan yang shaleh/shalehah. Pasangan yang shaleh/shalehah tentu saja In Syaa Allah akan membentuk keluarga yang memperoleh berkah dari Allah s.w.t. Para malaikat selalu mendoakan dan atas perintah Allah akan selalu melindungi keluarga tersebut.
  2. Rumah yang luas. Rumah yang luas, bersih dan teratur dengan halaman yang luas lengkap dengan fasilitas taman, kolam renang dan fasilitas lainnya akan memberikan kenyamanan bagi yang menghuninya. Dikombinasikan dengan yang nomor satu, maka alangkah bahagianya keluarga itu.
  3. Kendaraan yang bagus. Kendaraan yang bagus akan memberikan kenyamanan dalam bepergian.
  4. Tetangga yang shaleh/shalehah. Jika memiliki tetangga yang shaleh/shalehah maka akan melengkapi kebahagiaan hidup di dunia. Mereka terhindar dari gosip, iri, dengki, hasut dan penyakit hati lainnya. Yang ada adalah saling menolong, saling memberi, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Alangkah bahagianya kita jika kita mempunyai empat hal di atas.  Jika masyarakat taat kepada Allah s.w.t., In Syaa Alllah Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan dari bumi. Kemakmuran, kesejahteraan, keberkahan, dll. akan selalu dilimpahkan Allah kepada kita. Mari kita sungguh-sungguh menciptakan suasana masyarakat yang penuh dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, sehingga keberkahan selalu dilimpahkan kepada masyarakat tempat kita hidup, aamiin.