Kontes Ayam Burgo

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kontes ayam burgo di Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Kontes dibagi menjadi dua ketegori, yaitu ayam burgo turunan yang masih sangat mirip dengan ayam hutan merah (keturunan F1, F2 dan F3) dan ayam burgo turunan yang lebih banyak karakteristik ayam kampung (F4 ke atas). Ayam burgo dinilai penampakan morfologi dan suara kokoknya. Kontes ayam burgo ini sepengetahuan saya yang pertama kali di Bengkulu. Rencananya, Pemerintah Daerah Propinsi juga akan menyelenggarakan kontes ayam burgo ini bulan Oktober 2015 mendatang.

Untuk lebih mendalami ayam burgo (brugo) dan ayam hutan merah lihat di sini. Empat jenis ayam hutan yang sudah langka di sini. Gambar ayam hutan hijau di sini. Gambar ayam hutan merah di sini. Gambar ayam hutan kelabu di sini. Ayam hutan Srilangka di sini.

UKT yang Bukan UKT Lagi

Telah beberapa tahun uang kuliah tunggal (UKT) diberlakukan di seluruh perguruan tinggi negeri (PTN)di Indonesia. UKT itu berdasarkan Permendikbud No 55 Tahun 2013 pasal 1 ayat 3, yaitu setiap mahasiswa hanya membayar satu komponen saja. UKT dihitung dengan rumus sbb. UKT = BKT – BOPTN

  • Biaya Kuliah Tunggal (BKT) : biaya keseluruhan operasional per mahasiswa per semester pada program studi
  • Uang Kuliah Tunggal (UKT) : biaya kuliah tunggal yang ditanggung setiap mahasiswa per semester, yang sudah disubsidi oleh pemerintah.
  • Bantuan Operasinal Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) : bantuan operasional dari pemerintah kepada perguruan tinggi negeri dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Jadi untuk menghitung berapa UKT yang diberlakukan, pertama harus dihitung biaya kuliah tunggal, yaitu berapa biaya operasional total setiap mahasiswa per semester pada suatu Program Studi. Setelah ketemu BKT maka baru dihitung BOPTN, yaitu subsidi dari pemerintah.

Jika demikian, jika seorang mahasiswa telah membayar UKT itu berarti idealnya tidak ada lagi komponen biaya yang dibebankan pada mahasiswa. Namun demikian, jika ada kegiatan yang tidak masuk dalam komponen UKT, maka biaya tersebut bisa saja masih dibebankan kepada mahasiswa. Misalnya, jika mahasiswa bermaksud study tour, sementara komponen ini tidak masuk dalam UKT maka mahasiswa terbebani biaya study tour tersebut.

Setelah beberapa tahun berlaku, nyatanya mahasiswa masih dibebani beberapa biaya walaupun itu telah disepakati antara perguruan tinggi dengan mahasiswa, seperti misalnya kuliah antar semester (KAS). Dengan alasan kegiatan tersebut tidak masuk dalam komponen UKT, maka khusus untuk KAS mahasiswa dipungut biaya. Akhir-akhir ini, UKT untuk beberapa PTN disesuaikan, alias lebih tinggi. Selain itu, ada PTN yang juga memungut biaya semacam dulunya biaya pembangunan, yang dibayarkan di awal masuk PTN. Jadi biaya yang dalam konsep awal UKT sudah tidak dibebankan pada mahasiswa kini dipungut kembali. Biaya ini memang baru dibebankan kepada mahasiswa yang lulus melalui jalur mandiri.

Saya yakin bahwa perubahan itu sudah dipertimbangkan masak-masak oleh perguruan tinggi yang bersangkutan, berdasarkan kebutuhan yang berkembang. Namun demikian, perubahan biaya UKT dan perubahan UKT menjadi UKT plus (istilah saya) ini tentu saja membebani mahasiswa. Saya khawatir makin banyak calon mahasiswa yang tidak bisa kuliah dikarenakan masalah biaya. Di beberapa daerah/propinsi cukup banyak penduduk miskin, yang oleh kesadarannya akan pentingnya pendidikan bagi masa depan berusaha menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Jika UKT kurang mempertimbangkan hal ini, maka buyarlah cita-cita mereka ini.

Meskipun UKT itu ada level-levelnya, namun pada kenyataannya banyak calon mahasiswa miskin yang prestasinya dalam kisaran rata-rata, hilang harapannya meskipun mereka telah lulus seleksi. Memang, orangtua bisa bernego dalam hal UKT ini, namun tentunya tidak semuanya bisa dikabulkan oleh perguruan tinggi. Apalagi bagi calon mahasiswa yang masuk jalur mandiri, yang pada beberapa PTN dibebani uang pembangunan, yang besarnya tergantung program studi yang diambilnya.

Suatu dilema memang. Di satu sisi PTN terpaksa menaikkan UKT-nya dikarenakan adanya peningkatan kebutuhan, namun di sisi lain akan banyak orang Indonesia yang tidak bisa mengecap pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Lalu, apakah tujuan pendidikan dalam rangka mencerdaskan bagi setiap insan Indonesia semakin sulit dicapai? Mungkin, ada yang beragumentasi bahwa bukankah untuk menjadi cerdas tidak harus melalui pendidikan formal? Ya, memang betul. Namun, nyatanya untuk memperoleh pekerjaan yang diharapkan, ijazah dari pendidikan formal masih disyaratkan. Pendidikan keterampilan/non-formal/in-formal, hanya dijadikan syarat pendamping yang sifatnya tidak wajib. Lah kan bisa menciptakan usaha sendiri. Betul! Tapi tidak mudah untuk itu! Mencari kerja sulit, dan lebih sulit lagi menciptakan usaha.

Saya berharap, PTN-PTN dan pemerintah mencari jalan keluar, agar tujuan tujuan pendidikan dapat terrealisasi, dan mencari jalan keluar agar peluang kerja menjadi lebih besar. PTN hendaknya berusaha menciptakan sumber dana lain, misalnya melalui kerjasama dan bisnis, dan tidak hanya mengandalkan dana UKT. Selain itu, efisiensi manajemen pendidikan tinggi perlu ditingkatkan. Kegiatan-kegiatan yang sebenarnya sudah rutin dan masuk dalam tupoksi PNS, tidak perlu lagi memasukkan komponen honor, dan tidak perlu lagi membentuk panitia. Mungkin juga perlu adanya kejelasan tupoksi dan instruksi kerja bagi setiap pegawai, dan penerapan peraturan yang berlaku. Intinya, PTN hendaknya meningkatkan efisiensi manajemennya, sehingga biaya yang dibutuhkan dapat diminimalisasi. Dibutuhkan pemimpin yang bersedia berkorban bagi yang dipimpinnya. Dibutuhkan pemimpin yang bersedia berkorban dan berjuang dengan segala daya bagi kesejahteraan yang dipimpinnya. Dibutuhkan pemimpin yang lebih mengedepankan kesejahteraan umatnya daripada kesejahteraan dirinya sendiri. Semoga saja muncul pemimpin yang demikian, aamiin.

Menghadapi Monev Penelitian

Monev (monitoring dan evaluasi) penelitian yang dilakukan oleh Dikti ada dua macam, yaitu monev internal dan monev eskternal. Monev dimaksudkan untuk mengevaluasi seberapa jauh penelitian telah dilaksanakan oleh para peneliti. Monev penelitian ini hal biasa, dan bukan hal yang menakutkan bagi para peneliti. Namun demikian, agar hasil penilaian monev itu sesuai dengan apa yang telah dilaksanakan, maka peneliti perlu mempersiapkannya. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, antara lain:

  1. pelajari apa yang akan dimonev dalam panduan penelitian yang diterbitkan oleh Dikti.
  2. setelah memahami apa yang akan dimonev, maka persiapkan hal tersebut.
  3. pertanyaan monev biasanya berkisar pada persentase penelitian yang telah dilaksanakan, luaran yang telah dihasilkan, dokumentasi, luaran tambahan yang dihasilkan, penggunaan anggaran, dan pantauan ke lapangan jika diperlukan.
  4. Oleh sebab itu, siapkan dokumentasi (foto-foto) yang membuktikan bahwa penelitian telah dilaksanakan. Jangan lupa dalam dokumentasi terdapat foto ketua dan anggota peneliti.
  5. Siapkan data-data penelitian yang telah dihasilkan. Siapkan data yang sudah diolah dan data yang masih belum diolah.
  6. Siapkan luaran yang telah dihasilkan beserta bukti-buktinya. Misalnya, siapkan artikel ilmiah (draft, sudah dikirim, sedang direview, sudah diterima atau sudah terbit) dan bukti tahapannya. Jika ada produk yang dihasilkan maka disiapkan dan ditunjukkan pada saat monev. Mungkin ada baiknya, jika Anda memisahkan luaran ini, yaitu luaran yang dijanjikan dalam proposal, dan luaran tambahan.
  7. Perlu juga disiapkan dokumen penggunaan anggaran beserta bukti-buktinya. Kadangkala hal ini juga ditanyakan.
  8. Ada baiknya kita siapkan bahan presentasi, agar ketika diminta kita sudah siap menyajikan hasil penelitian kita.
  9. Siapkan juga dokumen laporan kemajuan, atau jika penelitian sudah selesai, maka siapkan laporan akhir.
  10. Selain persiapan dokumen, maka perlu disiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian di lapangan. Jika saja, pemonev akan memantau sampai ke lapangan untuk memastikan apakah pelaksanaan penelitian sesuai dengan dokumen atau tidak.
  11. Yakinkan bahwa semua yang diperlukan sudah disiapkan dengan baik. Tidak ada salahnya jika Anda berkomunikasi dengan Lembaga Penelitian tentang persiapan monev, dan berkomunikasi dengan sesama peneliti.

Semoga bermanfaat!

Mendongkrak Jumlah Sitasi Karya Ilmiah, Mungkinkah?

Kalau kita mempublikasikan karya kita, tentu kita berharap bahwa karya kita bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan. Sayangnya, ketika kita meneliti jarang diantara kita yang berpikir apakah nantinya hasil riset kita itu akan dibutuhkan bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya bagi masyarakat ilmiah, dan masyarakat umum pada umumnya. Seringkali, justifikasi yang dibuat ketika membuat proposal penelitian adalah hasil pemikiran di belakang meja bukan hasil pengamatan langsung. Meskipun secara ilmiah justifikasi itu bisa diterima, namun hasil riset nantinya akan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Jadi, sebelum meneliti, telitilah terlebih dahulu kemungkinan manfaat dari ide atau gagasan ilmiah tersebut. Setelah yakin bahwa ide atau gagasan itu dibutuhkan oleh masyarakat, maka barulah kita membuat proposal tersebut. Salah satu cara untuk menguji ide atau gagasan itu banyak diminati adalah dengan melihat topik-topik yang banyak disitasi di bidang ilmu kita masing-masing. Namun demikian, orisinalitas karya kita harus diperhatikan, sebab orisinalitas karya juga akan menentukan apakah karya kita akan disitasi atau tidak, selain juga daya tarik karya ilmiah bagi pembaca. Semakin orisinil dan semakin punya daya tarik, maka akan semakin dibaca dan disitasi. Menurut Meho (2008) bahwa dari jumlah karya ilmiah yang dipublikasikan hanya 50% yang dibaca oleh pembaca, dan dari 50% yang dibaca hanya 10% yang disitasi. Jika ini benar, maka betapa sulitnya untuk menghasilkan karya ilmiah yang diminati dan sehingga disitasi oleh pengguna.

Selain itu, ketika kita publikasi kita juga harus mempertimbangkan jurnal ilmiah yang dipilih, sebab popularitas jurnal ilmiah juga turut menentukan ketertarikan pembaca untuk mensitasi karya kita. Sebagai contoh, karya ilmiah saya yang banyak disitasi adalah karya yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang mempunyai impact factor yang tinggi. Hal ini bisa jadi membawa konsekwensi kepada biaya publikasi yang lebih mahal. Memang, ada juga jurnal ilmiah yang gratis, namun tentu saja seleksinya luar biasa ketatnya.

Setelah kita menerbitkan karya ilmiah kita, maka yang bisa kita lakukan adalah mempromosikan karya kita ke pengguna. Kalau pengguna yang dituju adalah masyarakat ilmiah, maka kita bisa memprosikan karya kita melalui researchgate.net, academia.edu, orcid.org atau situs-situs sejenisnya. Situs-situs ini telah terbukti mampu meningkatkan jumlah pembaca dan jumlah sitasi suatu karya ilmiah.

Ada cara lain agar jumlah sitasi karya ilmiah meningkat, yaitu dengan selfcitation. Namun, tentu saja cara ini tidak efisien dan amat melelahkan, sebab untuk itu kita harus lebih banyak menulis karya ilmiah. Meskipun dibenarkan, namun tentu saja jumlah sitasinya tidak begitu banyak. Namun bukan berarti selfcitation tidak berguna, sebab pada saat-saat tertentu selfcitation juga dapat meningkatkan h-index. Researchgate.net memisahkan h-index menjadi h-index tanpa selfcitation dan h-index termasuk selfcitation. Saya lihat artikel-artikel ilmiah yang terindeks di scopus juga banyak yang malakukan selfcitation. Dalam hal tertentu selfcitation harus dilakukan, seperti misalnya belum ada karya ilmiah yang sejenis. Tentu saja selfcitation yang membabibuta harus dihindari, misalnya meskipun karya terdahulu tidak relevan dengan karya yang sedang ditulis, namun kemudian direkayasa agar bisa masuk. Hal ini tentu saja justru akan menurunkan mutu karya ilmiah tersebut.

 

Obrolan Santri

Para santri di suatu pesantren lagi istirahat, setelah mengikuti berbagai kegiatan. Yang paling berkesan adalah ceramah tentang riya. Ini membuat ngeri para santri, kalau-kalau amalnya habis gara-gara riya.

A: Saya jadi ngeri….

B: Ngeri???

A: Iya, jangan-jangan shalat saya di masjid tidak diterima Allah.

C: Kok….

A: Iya..Kadang terselip juga riya.. Apalagi kalau dipuji oleh…..!

C: Iya.. saya juga kadang mengalami hal itu..

D: Kalau gitu agar tidak riya, bagaimana kalau shalat di pondokan saja.

E: Nanti dimarahi pak kyai.

D: Kalau pak kyai menegur kita, kita sampaikan saja alasan kita.

Kyai dengar: Itu sih alasan orang yang malas shalat di masjid. Kalau ada terselip riya, ya mohon ampun kepada Allah dan jangan diteruskan riyanya.

Para santri diam seribu kata…….

Seberapa Penting Profil Scholar Google?

Ada yang bilang kalau profil scholar google itu narsisnya para ilmuwan.  Mungkin anggapan itu ada benarnya, karena seolah-olah para ilmuwan pamer tentang dirinya. OK, saya tidak akan bahas ini. Ada hal lain yang barangkali lebih penting. Sebaiknya, kita berpikir positif terhadap ilmuwan yang membuat profil itu. Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik kalau kita membuat profil, antara lain:

  1. Ilmuwan akan dapat dengan mudah mengetahui jumlah sitasi terhadap tulisan mereka. Dengan ini, para ilmuwan dapat mempredikti seberapa penting tulisannya di mata para pembaca.
  2. Ilmuwan akan dapat mengetahui tulisan yang mana yang paling diminati oleh para pembaca. Dengan melihat hal ini, maka para ilmuwan bisa menggali ide atau gagasan untuk mengembangkan tulisan tersebut, baik melalui riset, tulisan lanjutan, maupun aplikasi di masyarakat.
  3. Ilmuwan dapat mengetahui nilai h-indeks dari sekumpulan tulisannya. Dengan ini bisa jadi ilmuwan akan punya ide atau gagasan paket teknologi yang bisa dikembangkan dari sekumpulan tulisan yang populer tersebut.
  4. Profil scholar google saat ini dijadikan dasar perhitungan pemeringkatan ilmuwan oleh webometrics. Dari pemeringkatan inilah, para ilmuwan bisa membaca posisinya di kalangan masyarakat ilmiah tertentu, misalnya di suatu negara.
  5. Point 1-4 ini akan memotivasi ilmuwan untuk lebih banyak berkarya dengan karya yang lebih berbobot dan lebih bermanfaat. Ilmuwan mempunyai landasan yang lebih akurat tentnag masalah apa yang harus dikembangkan di masa yang akan datang.
  6. Pemeringkatan ilmuwan oleh webometrics, dapat menjadi alat promosi bagi diri ilmuwan itu sendiri, dan bagi institusi tempat mereka bekerja. Beberapa perguruan tinggi telah melihat peluang ini, maka mereka menganjurkan atau bahkan ada yang mewajibkan para dosen untuk membuat profil scholar google.

Mungkin itu beberapa manfaat profil scholar google bagi ilmuwan dan institusi tempat mereka bekerja.

Sudahkah Shalat Kita Mencegah Dari Perbuatan Keji dan Mungkar?

Mari kita renungkan shalat kita dan untuk apa sesungguhnya tujuan shalat itu. Tujuan shalat adalah agar kita semua tergecah dari perbuatan keji dan mungkar. Apa itu perbuatan keji dan mungkar? Lalu mengapa banyak orang yang shalat itu masih berbuat banyak perbuatan yang tercela? Apa akibatnya kita shalat kita tidak benar? Shalat yang bagaimanakah yang bisa menghantarkan dalam mencapai tujuan tersebut?

(Surat Al Ankabut 45).

Kopi dari blog sebelah!

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ           (٤٥)

  1. [1]Bacalah kitab (Al Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat[2]. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji[3] dan mungkar[4]. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan[5].

Baca lebih lanjut

Mengapa Webometrics Memilih Scholar Google?

Terbetik dalam pikiran saya mengapa webometrics lebih memilih profil scholar google dari pada scopus dalam memeringkat para ilmuwan? Saya coba browsing, tapi belum saya temukan jawabannya. Lalu saya menduga-duga sebagai berikut. Webometrics mungkin lebih mementingkan dampak atau manfaat dari suatu tulisan daripada kualitas tulisan. Apalah artinya jika sebuah artikel yang dipublikasikan di jurnal bergensi (minimal terindeks di scopus) tapi dampaknya tidak ada. Maksudnya, tidak ada yang membacanya apalagi mensitasinya, dan boro-boro pula diaplikasikan. Lebih baik suatu tulisan — meskipun dipublikasikan di majalah atau koran — tapi ternyata banyak dibaca, disitasi dan kemudian diterapkan bagi kepentingan masyarakat. Kita tahu bahwa scopus hanya mendokumentasikan sitasi dari jurnal yang diindeks oleh scopus. Scopus tidak akan mendokmentasikan sitasi dari luar scopus, meskipun yang mensitasi adalah artikel dari jurnal yang diindeks oleh scopus. Mungkin webometrics menilai bahwa scopus ini tidak mencerminkan produktivitas seorang ilmuwan secara keseluruhan. Padahal seorang ilmuwan tidak hanya menulis artikel ilmiah, tapi juga diharapkan menulis artikel populer, buku-buku pengetahuan, dll., sehingga dampak kehadiran ilmuwan akan terasa.

Saya akui memang bahwa banyak buku-buku perguruan tinggi yang berbobot tinggi, yang dapat dijadikan acuan bagi mahasiswa, dosen dan peneliti. Bahkan banyak saya temukan tulisan-tulisan yang bagus dan amat bermanfaat meskipun tulisan itu dipublikasikan di jurnal ilmiah tidak terakreditasi. Bahkan di majalah dan koran pun banyak tulisan yang bagus, yang dapat dijadikan acuan bagi yang membutuhkan. Banyak juga artikel yang saya butuhkan saya temukan dalam jurnal yang tidak diindeks scopus dan tidak punya impact factor. Memang, teknik penulisan dan pembahasannya tidak mendalam, tapi data yang disajikan sangat bagus dan saya butuhkan. Banyak artikel di jurnal terindeks scopus, yang datanya biasa-biasa saja meskipun teknik penulisan dan pembahasannya sangat bagus. Artikel seperti ini meskipun dipublikasikan di jurnal yang bagus, kurang sempurna kualitasnya.

Meskipun demikian scholar google juga telah menyeleksi tulisan-tulisan yang dipublikasikan secara on line. Tulisan-tulisan yang dinilai tidak mencerminkan nilai akademik tidak dihitung. Oleh sebab itu, sangat jarang scholar google memasukkan tulisan-tulisan di blog-blog pribadi atau yang sejenis. Scholar google biasanya memilih website-website yang dinilainya menyajikan artikel-artikel berbobot seperti website perguruan tinggi, atau lembaga ilmiah lainnya. Saya sendiri punya blog pribadi. Dari sekian ratus tulisan hanya beberapa tulisan yang dimasukkan oleh scholar google, padahal tulisan-tulisan saya di blog tersebut banyak yang berbobot akademik. Jadi, kalau ada yang berpendapat bahwa scholar google memasukkan semua tulisan yang on line itu tentu saja tidak benar. Memang kita juga bisa memasukkan tulisan apa saja dalam profil kita, namun semuanya tergantung pada scholar google dan adakah penulis lain yang mensitasinya.

Apapun kelemahan profil scholar google, peringkat ilmuwan yang dipublikasikan oleh webometrics dapat dijadikan barometer kualitas ilmuwan (dosen dan peneliti) di suatu negara, dan bagi seorang individu dapat dijadikan barometer seberapa besar manfaat tulisan mereka dan dimana posisi seorang ilmuwan diantara ilmuwan-ilmuwan lainnya. Mungkin itu yang menjadi pertimbangan webometrics.